Friday, 03 September 2010
 
 

Cerita Burung Gagak

Category : Renungan

Pada suatu petang seorang tua bersama anak mudanya yang baru menamatkan
pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambil memperhatikan
suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di
ranting
pokok berhampiran. Si ayah lalu menuding jari ke arah gagak sambil
bertanya,
"Nak, apakah benda itu?"
"Burung gagak", jawab si anak. Si ayah
mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian sekali lagi mengulangi
pertanyaan
yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu
menjawab dengan sedikit kuat, "Itu burung gagak, Ayah!" Tetapi sejurus
kemudian si ayah bertanya lagi pertanyaan yang sama. Si anak merasa agak
keliru dan sedikit bingung dengan pertanyaan yang sama diulang-ulang, lalu
menjawab dengan lebih kuat, "BURUNG GAGAK!!" Si ayah terdiam seketika.
Namun
tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang
Serupa
hingga membuat si anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nada yang
kesal
kepada si ayah, "Itu gagak, Ayah." Tetapi agak mengejutkan si anak, karena
si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya hal yang sama. Dan
kali ini si anak benar-benar hilang sabar dan menjadi marah. "Ayah!!! Saya
tak tahu Ayah paham atau tidak. Tapi sudah 5 kali Ayah bertanya soal hal
tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang Ayah mau
saya katakan???? Itu burung gagak, burung gagak, Ayah.....", kata si anak
dengan nada yang begitu marah. Si ayah lalu bangun menuju ke dalam rumah
meninggalkan si anak yang
kebingungan. Sesaat kemudian si ayah keluar lagi dengan sesuatu di
tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan
bertanya-tanya. Diperlihatkannya sebuah diary lama. "Coba kau baca apa
yang
pernah Ayah tulis di dalam diary ini," pinta si Ayah. Si anak setuju dan
membaca paragraf yang berikut. "Hari ini aku di halaman melayan karena
anakku yang genap berumur lima tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di
pohon berhampiran. Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya,
"Ayah, apa itu?" Dan aku menjawab, "Burung gagak." Walau bagaimana pun, anakku
terus bertanya soal yang serupa dan setiap kali aku menjawab dengan
jawaban
yang sama. Sehingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi cinta dan
sayangnya aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku
berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga." Setelah selesai
membaca paragraf tersebut si anak mengangkat muka memandang wajah si Ayah
yang kelihatan sayu. Si Ayah dengan perlahan bersuara, " Hari ini Ayah
baru
bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak lima kali, dan kau telah hilang
sabar serta marah."
Jagalah hati dan perasaan kedua orang tuamu, hormatilah mereka. Sayangilah
mereka sebagaimana mereka menyayangimu di waktu kecil
Regards
Visi & Misi

Like this articles? share it with Share With FacebookFacebook
<< Back
0 Comment | 468 hits | Posted by Callrid at 2007-04-23 09:12:51

Related Read

Add Comment
Name :
Web :
Comment :

Code :
 

 
Shout Box
2010-08-25 03:45:46 
DenJaka
.
2010-08-08 19:14:59 
vals
hi to..
2010-08-07 18:31:40 
vins
hi..
2010-07-29 19:00:17 
dedi sijabat
hii to?
2010-07-18 21:28:28 
souvenirs and craft
tips nya keren2...
Name*:
Url:
Msg*:
Code*:


Site Partners


Search Articles

Web Statistic
No Visitor :
1370881
Today Visitor :
162
Online Visitor :
1
what is my ip address? Page Rank Checker

< Sep 2010 >
SMTWTFS
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930

Increase Page Rank

 
  Last Modified 07-March-2010, 10:20:30 am
callrid.com Created 2006-2010 by Anton Ongsono
All rights reserved