|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Jika Rumput Tetangga Terlihat Lebih HijauCategory : RenunganSiapa sih yang tak ingin maju? Siapa yang tak ingin lebih dari orang lain? Dan memang setiap orang pastilah memiliki keinginan untuk merasa lebih. Itu wajar. Bahkan Tuhan memang menginginkan kita selalu mengembangkan diri. Ingat cerita tentang "talenta"? Tuhan bahkan mengecam orang yang menyimpan talenta tanpa mengembangkannya.
Prosentase keinginan untuk lebih atau berbeda dari orang lain berbeda untuk masing-masing pribadi. Hal itu dapat memicu timbulnya sifat iri hati tergantung seberapa besar prosentase keinginan untuk lebih dari orang lain dan bagaimana kita mengatur serta mengolah keinginan itu. Apakah kita ingin semata-mata lebih dari orang lain atau benar-benar untuk memuliakan Tuhan dan membuat dunia menjadi lebih baik? Sering kali kita terjebak oleh bayangan orang lain. Tak heran kalau kita sering mendengar peribahasa yang mengatakan "rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau." Peribahasa itu mencerminkan keinginan kita yang selalu mudah merasa iri hati terhadap kelebihan orang lain. Padahal kalau dililhat lebih jauh, belum tentu orang lain benar-benar lebih daripada kita. "Tak ada gading yang tak retak" atau "No body's perfect" kata orang barat. Semua orang pasti punya kekurangan. Entah itu pada fisiknya atau pada mentalnya. Tak ada manusia yang diciptakan begitu sempurna. Kalau ada, apa bedanya dengan Tuhan? Saya mengilustrasikan keinginan untuk maju dengan pengalaman mengendarai sepeda motor. Saya rasa Anda pasti jengkel kalau pas enak-enaknya naik motor di depan ada mobil yang menghalang-halangi jalan. Mobil itu berjalan dengan pelan dan menutupi separo lebih badan jalan sehingga mau tidak mau saya harus mengalah. Anda sulit menyalip karena arus lalu lintas yang berlawanan begitu padat. Anda tentunya tak mau mati konyol dengan menyalip sembarangan, kan? Begitulah jika kita menjadikan orang lain sebagai pemacu keinginan untuk maju, kita sebenarnya terhalang oleh orang lain. Kita tidak punya tujuan yang murni. Dan jika kita berhasil menyalip mobil itu, kita akan mudah puas begitu saja. Padahal jalan di depan kita membentang luas bahkan bercabang-cabang. Tak heran jika kita akhirnya berhenti di tengah jalan karena kebingungan mau ke mana. Dengan begitu hidup kita hanya dikendalikan orang lain. Orang yang punya prinsip tak akan mudah "disetir" orang lain. Apakah Anda mau dikategorikan orang yang tak punya prinsip? Tentu tidak, kan? Kalau begitu mulai saat ini tetapkan tujuan Anda. Saya jamin, Anda akan merasa hidup ini lebih berarti. Coba saja .... Facebook
<< Back 0 Comment
| 997 hits | Posted by Callrid at 2008-04-09 22:50:23
|
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Last Modified
08-November-2011, 23:21:04 pm callrid.com Created 2006-2010 by Anton Ongsono All rights reserved |
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||