|
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
Benar atau tidak ya??Category : RenunganBeberapa minggu yg lalu saya dan 2 orang rekan saya mendapat kesempatan utk menghadiri seminar atas undangan Vendor kami di Hong Kong selama 3 hari. Setelah acara kantor selesai ke dua rekan saya terbang pulang ke USA sedang saya ambil cuti dan terbang ke Indonesia, rasanya sayang tidak tengok orang tua sudah sampai Hong Kong, Jakarta tinggal 4 jam terbang lagi. Meskipun saya tidak bisa lama2x di Indonesia (hanya 72 jam saja!) saya tetap sempatkan lihat orang tua di Indonesia. Sepulangnya ke USA saya mampir di Hong Kong lagi hanya untuk transit saja. Saya naik SQ dari Jakarta ke Singapore, ganti pesawat SQ di Singapore. Pesawat SQ yg saya tumpangi dengan route Singapore - Hong Kong – San Francisco. Saya duduk di jendela di tengah ada nenek orang Hong Kong kayaknya (saya sempat lihat passport nenek ini) dan di pinggir ada bapak X umur setengah baya. Penerbangan dari Singapore ke Hong Kong saya habiskan utk nonton film saja. Setelah transit 1 jam di Hong Kong ternyata nenek ini turun di Hong Kong dan bangku tengah kosong, jadi saya duduk di jendela dan si bapak X ini duduk di pinggir (aisle seat). Penerbangan dari Hong Kong ke San Francisco cukup lama, sekitar 14 hours nonstop flight, wah bosen juga nonton film dan baca terus, saya sapa bapak X ini, “Are you Indonesian?” (Habis mukanya ketahuan muka Indonesia) langsung di jawab, yes, dan kami lalu berbicara pakai bahasa Indonesia, ternyata bapak X ini akan menghadiri pesta pernikahan putra sulungnya di Palo Alto, CA (nggak jauh dari San Francisco). Dia Tanya apa saya juga tinggal di SF, saya bilang tidak, Cuma transit di SF saya tinggal di DC. Lalu dari mulanya kami hanya bicara basa basi kami jadi bicara panjang lebar seperti sudah saling kenal lama. Ternyata si bapak X ini agak “nervous” mengadiri pesta perkawinan putranya. Ceritanya gini; Bapak X ini dulu kuliah di University of Nebraska di kota Lincoln, NE di tahun 70an. Si bapak X tinggal di apartment dan punya roommate mahasiswa dari Iran. Di tahun segitu keadaan Iran lagi tidak stabil, (kebetulan saya suka sejarah, yes you can call me a history buff), Shah Iran yg di support oleh Amerika di protest habis oleh Iranian students. Nah roommate si bapak X ini aktif dalam berbagai macam Iranian student activities menentang Shah Iran. Bahkan kata si bapak X ini waktu Shah Iran datang ke Washington, DC di akhir tahun 1978 si roommate dan bapak X ini ikut ke Washington, DC utk protest. Si bapak X ini tujuan utamanya Cuma pengin lihat Washington, DC karena dia belom pernah ke DC jadi dia Cuma nebeng si roommate nyetir dari Lincoln, NE ke Washington, DC. Nah ternyata setelah meletus revolusi Iran bulan February 1979 dan Iranian students sandera orang2x America di US Embassy di Tehran, roommate si bapak X yg orang Iran ini jadi di cari2x FBI. Akhirnya suatu malam bulan Maret 1979, si roommate di ciduk FBI sewaktu si bapak X ini lagi nginep di rumah pacarnya. Mendengar berita ttg roommatenya, si bapak X langsung panic, dia takut dia juga bakal di ciduk oleh FBI. Yg membuat tambah panic karena si bapak X ini juga ikut ke Washington, DC dengan sang roommate utk protest kedatangan Shah Iran di Amerika. Si bapak X berniat langsung terbang pulang ke Indonesia, tetapi yg membuat dia bingung, ini adalah semester terakhir dia, dengan kata lain dia bakal lulus di bulan May 1979. Jadi sayang sekali kalau di tinggal begitu saja. Di lain pihak, si bapak X dan sang pacar sudah sangat serious dan mrk sudah membicarakan masalah pernikahan. Tetapi pernikahan mrk di tentang keras oleh kedua belah pihak keluarga, keluarga sang pacar yg bule/Kristen tidak setuju, begitu juga dengan keluarga bapak X ini di Indonesia yg Muslim. Keadaan semakin kacau waktu keluarga sang pacar mendengar kalau si bapak X ini sempat pergi ke Washington, DC dengan roomatenya yg orang Iran, terlebih setelah sang roommate diciduk oleh FBI, keluarga sang pacar melarang anak gadisnya utk bertemu dengan si bapak X tsb. Tetapi semakin keras mrk dilarang, semakin nekad mereka berdua. Karena si bapak X ini sudah takut untuk kembali ke apartmentnya (takut di intai oleh FBI) si bapak X ini jadi tinggal di apartement sang pacar. May 1979 begitu si bapak X selesai kuliah dan kedua keluarga tetap tidak setuju dengan perkawinan mereka si bapak X. Suatu hari mrk berdua terlibat pertengkaran kecil, sayang si bapak X tidak menjelaskan panjang lebar pertengkaran macam apa, si bapak x diam2x beli ticket one way ke Indonesia, lalu beberapa hari kemudian waktu sang pacar sedang kuliah si bapak X naik taxi ke airport untuk memulai perjalanan panjang pulang ke Indonesia. Tidak ada sepucuk surat penjelasan buat sang pacar. Sejak saat itu, May 1979 si bapak X tidak pernah kontak dengan sang pacar, karena sang pacar emang juga tidak pernah tahu alamat si bapak X ini di Indonesia, selama kuliah di Lincoln, NE si bapak X jarang gaul dengan orang Indonesia, malah gaul banyak dengan mahasiswa2x Iran. Jadi orang2x Indonesia lainnya pada kurang gitu tahu si bapak X tsb. Keluarga si bapak X ini juga tidak punya telepon di Indonesia, tahun segitu telepon masih jarang di Indonesia, jadi sang pacar tidak bisa telepon ke Indonesia. Inget ketika itu, tahun 1979, belum ada HP, email, Instant Message, sms, internet, dll. Sptnya sang pacar kalau kontak University utk minta alamat si bapak X di Indonesia, University tidak akan kasih alamat tsb ke orang ketiga, ini kan dilindungi oleh privacy law. Jadi sang pacar benar2x nggak bisa kontak si bapak X ini (wah sudah diperhitungkan semua nih). Saya yg tadinya ngantuk jadi hilang ngantuknya karena ceritanya jadi seru. Di awal tahun 1980 si bapak X ini menikah dengan gadis Indonesia dan di akhir tahun 1980 itu pula mrk mendapat putra (yg sekarang mau nikah ini). Sayang istri bapak X ini meninggal di tahun 1996 karena sakit, Sejak itu si bapak X menjadi duda dan tidak pernah terpikir utk menikah lagi tapi selalu penasaran dengan kabar mantan pacar bulenya di Lincoln, NE dulu. Si bapak X berusaha mencari informasi mantan pacar dengan memakai beberapa macam biro jasa on-line tapi hasilnya nihil. Tahun 2000 si bapak X mengirim putranya utk kuliah di California. Di tahun 2004 sang putra lulus dan langsung dapat kerjaan si salah satu IT company di Silicon Valley, CA. Si bapak X bilang “Like father, like son” ternyata sang putra pacaran dengan gadis bule juga di California. Tapi kali ini kedua keluarga menyetujui perkawinanan walaupun beda race dan agama. Begitu melihat foto calon mantunya si bapak X jadi kaget setengah mati karena sang calon mantu mirip dengan mantan pacar si bapak X tsb, si bapak X sempat menunjukkan ke dua foto (mantan pacar dan calon mantu ke saya) emang mirip banget. Yang bapak X ini takutkan, si calon mantu ádalah putri mantan pacar bapak X ini. Saya jadi heran, apakah calon mantu nggak pernah bilang ke orang tua mereka ttg anak bapak X? Terus si bapak X bilang kalau dia dan anak dia punya last name yang berbeda, kan umum bagi orang Indonesia punya last name yg berbeda walaupun dari satu keluarga, contoh keluarga mantan President Soeharto, Tommy, Bambang, Sigit, Tutut, mrk punya last name yg beda beda. Wah bener juga nih, jadi si bapak X bener2 nervous. Emang sih belom tentu calon mantu itu adalah anak mantan pacar, tapi perasaan bapak X ini bilang begitu. Bapak X jadi bingung berat di satu pihak dia senang karena dia akan mendapatkan closure dengan penjelasan kepada sang mantan pacar karena si bapak x merasa Sangat bersalah kepada mantan pacarnya, si bapak x sadar bahwa dia dulu bertindak seperti orang pengecut, tapi selama 10 tahun belakangan ini, Sejak sang istri meninggal si bapak x selalu berusaha mencari mantan pacarnya, jadi si bapak x senang karena perjalanan panjangnya hampir selesai. Tetapi di lain pihak, si bapak X Sangat takut kalau kejadian masa lalu akan merusak perkawinan putranya yang amat di cintainya. Yang lebih dia takutkan adalah kalau sampai putranya sendiri menyalahkan hal ini ke pada si bapak X tsb (misal perkawinan mrk batall gara2x masa lalu bapak x ini). Wah saya jadi bingung mau bicara apa ke bapak X ini, kok kayak film aja. Kalau saya ini producer film di Hollywood pasti sudah saya buat film. Tapi terus terang saja berkat cerita bapak x ini penerbangan Hong Kong – San Francisco yg begitu panjang terasa jadi singkat. Sebelum kita mendarat di SF si bapak x ngaku dia merasa lega bisa curhat ke stranger, saya sarankan untuk tabah, saya hanya bilang “Things happen for a reason, pak, semuanya sudah di atur oleh Tuhan, manusia boleh berencana Tuhan jugalah yang menentukannya”. Facebook
<< Back 0 Comment
| 1218 hits | Posted by Callrid at 2006-09-20 16:10:07
|
|
||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
|
Last Modified
08-November-2011, 23:21:04 pm callrid.com Created 2006-2012 by Anton Ongsono All rights reserved |
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||