Wednesday, 23 May 2012

Like and Love

Category : Love

Dalam bahasa Inggris, kata "to like" berarti menyukai sedangkan kata "to love" berarti mengasihi. Sekarang apa perbedaan mendasar antara dua kata ini dalam hal memilih pasangan hidup? Menurut saya, menyukai mengacu pada kesenangan pribadi yakni menginginkan seseorang karena ia baik untuk kita dan menyenangkan hati kita. Sebaliknya, mengasihi merujuk kepada memberikan diri untuk seseorang.

Cara lain untuk membedakannya ialah, menyukai hanya meminta kita menjadi pengamat, sedangkan mengasihi mengharuskan kita menjadi pelaku. Misalnya, kita menyukai mainan, kendaraan, dan rumah, tetapi kita mengasihi adik, orangtua serta istri kita. Mainan dan kendaraan bertujuan untuk menyenangkan atau memudahkan kehidupan kita tanpa kita harus terlibat di dalamnya (menjadi bagian dari mainan atau mobil itu). Mengasihi keluarga menuntut kita untuk terlibat di dalamnya (menjadi bagian dari kehidupan mereka); dengan kata lain, kita mesti menjadi pelaku, bukan sekedar pengamat yang mencicipi kenikmatan objek tersebut.

Adakalanya kita dibingungkan dengan kata "suka" dengan "cinta". Tidak bisa disangkal, pada tahap awal pertemuan, rasa suka akan mendominasi hubungan kasih kita. Kita menyukai wajahnya, cara bicaranya, tertawa renyahnya, kelembutannya, kepemimpinannya, atau wibawanya. Namun seyogianya rasa suka ini bertumbuh menjadi rasa cinta yakni kerelaan untuk memberi yang terbaik dari diri kita demi yang terbaik untuknya. Jika metamorfosis ini tidak terjadi, maka kita pun akan terlibat dalam suatu relasi yang kerdil dan dangkal. Kita akan berhenti pada peran pengamat yang hanya menikmati tontonannya dengan penuh kekaguman. Yang lebih berbahaya lagi, kita akan menuntutnya untuk bersikap dan melakukan hal-hal yang dapat terus melestarikan kenikmatan dan kekaguman kita terhadapnya.

Berbeda dengan suka, kasih masih menyisakan benih-benih kekaguman tanpa membuat kita terpukau kaku dan pasif. Kasih melibatkan kita dalam hidupnya sebagai pelaku yang rela mengotorkan tangan, bukan sekedar sebagai penonton yang disenangkan oleh pertunjukkan yang indah.

Kasih bertanya, "Apa yang dapat kuberikan?", sedangkan suka bertanya, "Apa yang dapat kau berikan?". Saya kira istilah C.S. Lewis, "need-love", mencerminkan definisi menyukai yang telah saya jabarkan. Menurut Lewis, "need-love" merupakan kasih yang keluar dari kebutuhan dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan itu. Dengan kata lain, kita memilihnya menjadi istri atau suami karena ia akan dapat memberikan yang kita butuhkan. C.S. Lewis tetap menyebutnya, kasih, tetapi saya cenderung memanggilnya, suka.

Sekali lagi saya tegaskan bahwa suka pada dasarnya sesuatu yang alamiah dan bersifat netral. Rasa suka merupakan bagian awal dari rangkaian pertumbuhan relasi di mana pada puncaknya, kasihlah yang mencuat dengan indahnya. Problem muncul tatkala benih suka tetap tinggal sebagai biji suka dan tidak pernah bertumbuh menjadi pohon kasih. Pernikahan yang seperti ini akan ditandai dengan dua nada: frustasi dan kejam.

Kita merasa frustasi karena kita mengalami delusi sebab ternyata yang kita harapkan tidak menjadi kenyataan. Kita terbangun dari mimpi dan melihat rupa pasangan kita yang sebenarnya -- ternyata dia bukan pangeran yang mengherankan kita. Dia tidak memberikan yang kita butuhkan bahkan kitalah yang harus mengisi kebutuhannya.

Kita juga bisa berubah kejam. Kita dapat terus menghujamnya dengan tuntutan demi tuntutan secara bertubi-tubi dan membabi buta. Kita tidak mau tahu akan realitas sebab kita merasa terpedaya dan terperangkap. Kita menganggap bahwa ia berhutang pemberian kepada kita. Kita menjadi kejam karena ternyata tontonan itu tidak menarik sama sekali. Rasa suka pun berubah menjadi benci.

Kembali kepada konsep "need-love" yang diutarakan C.S. Lewis, ternyata hubungan kasih memang sarat dengan kebutuhan, misalnya kebutuhan untuk dikasihi, dihargai, dan keamanan. Ternyata pemilihan pasangan hidup juga tidak terlepas dari penentuan akan siapa yang kira-kira dapat memenuhi kebutuhan kita itu. Kita tidak memilih siapa saja; kita memilih dia yang berpotensi atau yang kita duga akan sanggup mencukupi kebutuhan kita. Selama kebutuhan itu tidak terlalu besar, biasanya hubungan nikah akan dapat berjalan langgeng. Namun jika kebutuhan itu terlalu menggunung, konflik pasti akan meletus.

Kesimpulannya adalah, sadarilah kebutuhan yang kita miliki itu dan akuilah harapan yang terkandung di dalam hati kita. Komunikasikanlah harapan itu kepada pasangan kita dan carilah jalan tengah agar kebutuhan itu dapat dipenuhinya tanpa harus terlalu melelahkannya. Semakin dini kita menyadari dan mengkomunikasikannya, semakin besar kemungkinan kita menyelamatkan pernikahan kita kelak.

Sumber :
 Judul Buku/Buletin : Parakaleo, Vol VI/3, Juli - September 1999
 Penulis/Narasumber : Pdt. Dr. Paul Gunadi, Ph.D.
 Penerbit : STTRII
 Halaman : 3 - 4


Like this articles? share it with Share With FacebookFacebook
<< Back
0 Comment | 2542 hits | Posted by Callrid at 2006-09-27 09:54:22

Related Read

Add Comment
Name :
Web :
Comment :

Code :
 

Other Source
A Practical Guide On Complete Multivitamins
Many of us have a hard time deciding what the best multivitamin is for us. This is completely confusing and difficult especially when there are so many bottles to scan in the various aisles of the...

High Blood Pressure
The nutritional benefits of low-fat dairy products are well known for ages. The latest studies show that the ingredients of dairy products - some combination of milk proteins are effective and...

Welcome To Mimicwatch.com - Quality Luxury Replica Vacheron Constantin Watches At Affordable Price
When entering our online store at Mimicwatch.com, you are given an unique opportunity to choose among a wide selection of famous Replica Watches and Replica handbags such as Replica Vacheron...

Ebook Marketing Tips
A great way to have a product to sell on the Internet is an e-book which almost anyone can create. There is no longer any need for delaying with the simple process detailed below. If you are afraid...

Tactical Asset Marketing
Asset Management Different Asset Allocation Strategies Asset marketing is the process of dividing a portfolio into major asset categories such as cash, stocks, real estate, or...

Shout Box
2012-05-20 02:21:58 
bunga
Salam kenal
2012-05-19 18:31:58 
Fachmi Agung
blogwalking
2012-05-19 10:35:18 
Nawa-Birawa
blogwalking here
2012-05-14 17:45:08 
Agen Bola
mantap ini websitenya...
2012-05-05 08:22:16 
indri
Makasih ya atas trik blog walkingnya ... kunjungi blog saya ya ..

Site Partners


Search Articles

Web Statistic
No Visitor :
3089214
Today Visitor :
734
Online Visitor :
1
what is my ip address? Page Rank Checker

< May 2012 >
SMTWTFS
  12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031

Increase Page Rank

Last Modified 08-November-2011, 23:21:04 pm
callrid.com Created 2006-2012 by Anton Ongsono
All rights reserved